Search

Golden Reign

Words and Story and Happiness

[FLASH-FICTION] GUARDIAN

Tittle : Guardian

Author : Maya Giftira

Main Cast : Unknown

        Genre : Fluff, AU             

Length : Flash-Fiction

Rating  : PG-13

Disclaimer : Freely imagine the character as what you want.  No names are contributed in this fiction.

A/N :

 It’s been a while since the last time I wrote again. I do miss the fantastic imagination come to my brain. Thus, this is it. 

So, happy reading everyone. Don’t forget to leave comments. So, I could know that someone is reading my fiction. Thank you.:)

© 2016

     Aku melihatnya dari jauh. Ia menangis tersedu-sedu. Tangannya bergetar dan rambutnya dipenuhi butiran salju. Ia terlihat begitu kedinginan namun aku yakin ia tidak merasakan apapun. Tiba-tiba seorang anak berpakaian kucel datang menghampiriku, meminta sejumlah uang. Sejenak, terbesit di otakku untuk memberikannya lebih dari apa yang dia harapkan.

    Di tengah taman kota Manhattan, aku melihatnya anak yang berpakaian kucel tadi menghampirinya, memberikan mantel tebal yang aku berikan. Aku melihatnya kebingungan. Awalnya ia menolak, namun setelah melihat betapa kerasnya anak yang berpakaian kucel itu memaksanya untuk menerima mantel itu, akhirnya ia menerimanya dan memakainya. Aku melihat ia mengucapkan terima kasih kepada anak itu lalu membiarkan anak itu pergi.

     Setelah itu, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, mencari-cari sesuatu. Reflek, aku berputar. Menutup tubuhku dengan batang beringin yang sangat besar. Setelah menunggu beberapa menit, setelah merasa aman untuk melihatnya lagi, aku memunculkan kepalaku ke ruang bebas untuk melihatnya. Sekarang ia sudah tidak menangis lagi. Tanpa sadar, aku tersenyum tipis.

     Ia kemudian mulai melangkah, membuatku otomatis ikut melangkah, keluar dari tempat persembunyianku. Aku mengawasinya melangkah. Ia berjalan lurus sampai ke tempat penyeberangan. Ia menunggu lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Di saat itulah aku mempercepat langkahku dan berhenti di sampingnya. Benar-benar di sampingnya dan ia tidak menyadariku.

        Ia tidak menyadariku.

     Tentu saja, ia bahkan tidak mengenalku. Kami berjalan menyusuri jalan yang berwarna hitam-putih itu, pelan. Karena ia melangkah dengan sangat pelan. Aku tidak melepaskan mataku darinya. Ia meremas tangannya kuat. Sepertinya ia kedinginan. Barulah saat itu aku juga merasa kedinginan. Aku lantas tersadar bahwa aku hanya memakai sehelai pakaian tipis karena aku memberikan mantelku kepadanya. Sedetik itulah aku mengutuki kebodohanku.

     Kini, kami tidak lagi menyusuri tempat penyebrangan jalan. Kami berjalan di jalanan biasa. Jalanan kota Manhattan yang sangat ramai di hari Natal. Aku memperlambat langkahku. Kembali mengambil langkah di belakangnya, menjadi bayang-bayangnya.

    Sementara dirinya, kembali berjalan tanpa arah. Semakin lama semakin melambat. Punggungnya mulai naik dan turun. Aku menghela nafas. Ia mulai terisak kembali. Aku mulai gelisah dan resah. Sebenarnya apa yang terjadi. Apa yang membuatnya menangis tanpa henti. Apakah ia tidak bisa berbahagia di hari Natal yang indah ini?

     Aku melepaskan pandanganku darinya sejenak. Aku menatap orang-orang yang berlalu lalang. Semua wajah yang menghiasi mataku adalah wajah-wajah bahagia. Semua orang merayakan Natal dengan penuh suka cita kecuali aku dan dia. Saat itulah aku tersadar, mengapa aku tidak memperkenalkan diri dan menghapus tangisan itu.

      Kau tidak memiliki keberanian itu.

    Aku berujar pada diriku sendiri. Kemudian aku beralih menatap ke depan. Namun aku tidak dapat menemukannya. Ia menghilang. Aku mulai berlari menyusuri jalanan. Namun aku tetap tidak dapat menemukannya. Aku berhenti berlari dan mengatur nafasku. Di saat itulah, mataku menangkap sosok yang kucari berada tak jauh di depanku. Ia berdiri di bawah sebuah pohon, menengadah menatap ranting pohon yang kering.

     Di saat itulah aku melihat sepeda melaju dengan sangat kencang ke arahnya. Ia tampak tidak menyadari keberadaan sepeda itu dan pengendara sepeda itu juga tampak tidak menyadari keberadaan seseorang di depannya. Si pengendara sepeda sibuk menoleh ke kiri dan kanan dan tetap mengayuh sepedanya dengan kencang.

  Tanpa berpikir, tanpa aba-aba, kakiku melangkah, berlari menghampirinya. Meraih tangannya dan menyeretnya menjauh dari jalur peseda itu.

     Di saat itulah, aku menatap matanya dan ia menatapku.

     Dan. Sejak saat itu, semuanya dimulai…

∞∞∞

[Oneshoot] SHE ONLY LOVE HIM

Tittle : She Only Love Him

Author : Maya Giftira

Main Cast : Yoon Doo Joon (Beast) – Goo Hara (KARA) – Yong Jun-hyung (Beast)

                                          Genre : Fluff, AU             

Length : Oneshoot

Rating  : PG-13

Disclaimer : Yoon Doo Joon, Goo Hara, Yong Jun-hyung are not mine. But their character and this fanfiction are mine.

A/N :

 Hai. Setelah dua minggu nggak nge-post apapun di sini, aku kembali menerbitkan sebuah fanfiction yang mungkin kalian semua sudah bosan dengan tema yang hampir mirip. Tapi meskipun begitu, aku masih berharap kalian semua enjoy dan menikmatinya. Dan untuk permintaan nama yang digabungkan, belum bisa aku terapin di sini. Karena saat itu, FF ini sudah jadi setengah dan aku malas ubah *boom* Maaf~

So, happy reading everyone. Don’t forget to leave comments. They help me so much. 🙂

© 2012

Di musim dingin yang penuh salju, ruangan musik bisa menjadi tempat yang paling bagus untuk menghabiskan waktu, menunggu hujan salju yang belum berhenti. Goo Hara dan kedua orang temannya nampaknya setuju dengan pernyataan itu. Bel tanda pulang sudah berdering sejak satu jam yang lalu dan sekolah sudah sepi namun mereka bertiga masih betah berada di dalam ruangan itu.

Goo Hara berdiri di samping Yong Jun-hyung yang sedang memainkan piano. Entah lagu apa yang dimainkan laki-laki itu sejak tadi, namun Goo Hara terus memandangnya. Melihat Jun-hyung bermain piano, membuat darahnya berdesir dan melupakan kakinya yang letih karena sejak tadi berdiri.

Sebenarnya Hara sangat ingin duduk di sebelah laki-laki itu tetapi ia teringat Jun-hyung pernah melarangnya. Takut konsentrasinya pecah, katanya. Terpaksa Hara berdiri di samping piano karena bangku yang ada terletak sangat jauh dari piano. Tetapi Hara tidak tampak keberatan. Asal ia bisa melihat laki-laki itu dari dekat, Hara sudah merasa senang. Continue reading “[Oneshoot] SHE ONLY LOVE HIM”

[Oneshoot] YOU WERE RIGHT

Author : Maya Giftira

Main Cast : Jung Yong Hwa (CN Blue) – Juniel – Nam Woo Hyun (Infinite)

Genre : Drama, Hurt/Comfort

Length : Oneshoot

Rating  : PG-17

Disclaimer : Jung Yong Hwa, Juniel, Nam Woo Hyun are not mine. But their character and this fanfiction are mine.

A/N :

Hi. Oneshoot kali ini kayaknya nggak sekeren dan seapik oneshoot kemarin. Mungkin akan sedikit memusingkan. Sebenarnya pengen diedit sih tapi nggak tahu harus mulai nge-edit dari mana. Takut nanti malah merombak keseluruhan cerita. But I hope you still enjoy it.

So, happy reading guys. Don’t forget to leave comments. They help me so much. 🙂

∞∞∞

Sebuah gitar kecil berwarna kuning tergeletak menyedihkan di lantai putih yang dingin. Salah satu senarnya putus sehingga ia terpaksa diberhentikan sementara waktu. Gadis berkucir kuda duduk di sebelahnya sambil menghela nafas sedih.

“Junier,” gumamnya, memanggil nama yang diberikannya pada gitar kecil itu, “Maafkan aku karena membuatmu terluka, tapi kau harus segera sembuh ya? Karena aku membutuhkanmu untuk lomba minggu depan. Kita akan berjuang bersama untuk lomba itu kan, Junier?”

Juniel, gadis itu menghela nafas lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bel tanda pulang baru saja berbunyi. Semua orang sibuk membereskan peralatan masing-masing dan bergegas pulang sehingga dalam waktu sekejap hanya tersisa segelintir anak yang masih sibuk berkutat dengan alat musik masing-masing. Countinue Reading

[Sequel] TIME MISSED TO KNOW YOU

Tittle : Time Missed To Know You

Author : Maya Giftira

Main Cast : Kris (EXO M) & Park Ji Yeon (T-ara)

Genre : Fluff

Length : Oneshoot

Rating  : PG-13

Disclaimer : Kris and Park Ji Yeon are not mine. But their character and this fanfiction are mine.

A/N :

 Selamat membaca. I hope you love it. Dan jangan lupa meninggalkan jejak. Your Comments is My Spirit. 😉

 ∞∞∞

“Kita tidak bisa bersama. Kau dan aku tidak cocok.”

Dengan sekali hembusan nafas, Kris akhirnya berhasil mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sangat berat hingga membuatnya harus termenung selama beberapa saat setelah mengucapkannya. Kedua tangannya terkatup di samping celana.

Ia tahu, ia harus pergi sekarang. Namun kakinya sedang enggan untuk bergerak. Selama beberapa detik, dipandanginya gadis itu terus. Gadis yang beberapa detik yang lalu masih menjadi kekasihnya.

Song Yong Ji, gadis itu bungkam. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun yang membuat Kris ingin menarik ucapannya kembali. Tetapi ia tidak boleh egois. Melepaskan gadis itu adalah jalan terbaik agar semuanya tidak ada yang saling tersakiti lagi. Countinue Reading

[Oneshoot] YOU MAKE ME SMILE

Tittle : You Make Me Smile

Author : Maya Giftira

Main Cast : Kai (EXO K) & Song Yong Ji (Diandra)

Genre : Fluff & Hurt/Comfort

Length : Oneshoot

Rating: PG-13

Disclaimer  : Kai and Song Yong Ji are not mine. But their character and this fanfiction are mine.

A/N

Andra, request-an kamu udah jadi, Nak. Yeay~!! Sorry, angst-nya nggak begitu keluar. Semoga suka ya! Dan buat reader, selamat membaca!! J Jangan lupa comment! Your Comments is My Spirit. 😉

∞∞∞

Malam ini di Gyeongju turun salju dengan sangat lebat. Namun pasangan muda-mudi tetap berjalan-jalan di jalanan. Mereka saling begandengan tangan hanya untuk melihat pohon-pohon yang tertumpuk salju sambil menyambut datangnya hari Natal.

Di saat mereka sedang tertawa bahagia, seorang gadis berdiri di tengah trotoar sibuk menahan tangisnya agar tidak berderai. Pinggiran bajunya sudah kusut dan mulutnya sudah mengering.

Song Yong Ji, gadis itu bergeming. Meski sudah jauh, ia masih dapat melihat laki-laki itu berjalan dengan santai tanpa menoleh ke belakang. Ia ingin memanggil laki-laki itu untuk kembali.

Aku tidak berarti sama sekali untukmu ya?

Countinue Reading

[Flash Fiction] LAST YOU…

 

“Aku tidak bisa bersamamu.”

Kata-katamu membuatku terpaku. Kala itu matahari sedang berada di penghujung pantai. Desiran ombak yang menerpa wajahku nyaris terasa seperti seperihan kaca yang menusuk. “Kau akan debut?” tanyaku tanpa berpikir.

Kau tidak langsung menjawab. Kau terlihat bingung menjawab pertanyaan sederhana itu. Hening sejenak ketika kita sama-sama sibuk berpikir untuk melanjutkan pembicaraan. Aku tahu maksudmu, kau harus pergi meraih cita-citamu. Countinue Reading

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑